Partner Informasi Investasi, Bisnis dan Keuangan
Bitcoin (BTC)
Rp63.636.899
-4.28%
Ethereum (ETH)
Rp1.860.743
0%
Litecoin (LTC)
Rp467.795
DigitalCash (DASH)
Rp1.505.649
Monero (XMR)
Rp950.099
Nxt (NXT)
Rp527
Ethereum Classic (ETC)
Rp79.037
Dogecoin (DOGE)
Rp31
ZCash (ZEC)
Rp1.188.101
Bitshares (BTS)
Rp738
DigiByte (DGB)
Rp179
Ripple (XRP)
Rp6.174
BitcoinDark (BTCD)
Rp159.858
PeerCoin (PPC)
Rp11.353
CraigsCoin (CRAIG)
Rp12

Strategi Trading Saham: “Beli Rendah, Jual Tinggi”

0 95

“Membeli harga rendah, dan menjual saat harga tinggi” adalah salah satu strategi trading saham yang sering diterapkan oleh para trader saham untuk mengambil keuntungan dari pasar saham. Tak hanya berlaku di pasar saham, strategi ini bisa diterapkan di pasar lainnya seperti obligasi, valas, dll. Walaupun kelihatannya sederhana, tetapi dalam eksekusinya seringkali sulit untuk dilakukan.

Sangat mudah untuk mengatakan apakah harga saham tertentu rendah atau tinggi dalam retrospeksi, tetapi pada saat itu secara monumental terbilang sulit. Harga mempengaruhi psikologi dan emosi para pelaku pasar.

Karena alasan itulah strategi trading saham, “beli rendah jual tinggi”, bisa jadi menantang untuk dapat diterapkan secara konsisten. Trader saham dapat menggunakan alat bantu seperti moving average dan siklus bisnis.

Kesulitan Strategi Trading Saham “Beli Rendah, Jual Tinggi”

Ada contoh kasus klasik dari kondisi pasar yang terdorong ke titik ekstrem, yaitu harga tinggi karena terjadi gelembung pasar atau harga rendah karena terjadinya kepanikan pasar. Ini salah satu peluang terbaik untuk menerapkan strategi membeli dengan harga rendah dan menjualnya dengan harga tinggi.

Akan tetapi, ada banyak waktu saat pasar terus bergerak ke satu arah, menjadi hukuman bagi mereka yang ingin membeli (harga) rendah dan menjual (harga) tinggi. Apa yang tampak seperti harga tinggi pada suatu hari akan terlihat seperti harga rendah di hari yang lain.

Trader dan investor saham harus memiliki metode obyektif tertentu untuk menentukan apakah harga sedang tinggi atau rendah. Manusia terkondisikan untuk mengikuti orang banyak. Ada kesulitan yang melekat secara konsisten saat ingin membeli rendah dan menjualnya dengan tinggi.

Ketika harga rendah, sentimen cenderung sangat negatif terhadap saham. Banyak pemegang bullish dipaksa membuang sahamnya. Demikian pula, ketika harga tinggi, sulit membayangkan melepaskan saham yang harganya tinggi.

Strategi trading saham “beli rendah, jual tinggi” bisa menyesatkan dalam beberapa hal, karena posisi terendah dan tertinggi hanya menjadi jelas dalam retrospeksi. Selalu ada bull yang menganggap harga saham rendah dan bear yang menganggapnya tinggi.

Seringkali, kedua belah pihak membuat argumen yang meyakinkan. Tantangan bagi investor dan trader adalah untuk menentukan saham mana yang terdorong ke arah ekstrem berdasarkan fundamental dan yang didorong oleh emosi.

Penggunaan Moving Averages

Salah satu cara sederhana untuk menerapkan strategi beli rendah, menjual tinggi adalah dengan menggunakan moving averages. Indikator ini berasal dari harga dan sangat membantu trader serta investor dalam menentukan tren saham.

Menggunakan moving averages dari durasi yang lebih pendek dan satu dengan durasi yang lebih lama dapat membantu dalam membantu trader membeli rendah dan menjual tinggi serta melindungi risiko downside. Sebagai contoh, salah satu metode umum adalah menggunakan indikator rata-rata bergerak 50 hari dan 200 hari. Ketika rata-rata bergerak 50 hari melintasi 200 hari, maka menghasilkan sinyal beli. Ketika melintasi lainnya, maka menghasilkan sinyal jual.

Indikator ini efektif dalam membantu trader mengatur waktu masuk ke titik ketika tren sedang goyah. Salah satu masalah penerapan strategi trading saham dengan buy low sell high adalah membeli atau menjual sebelum tren telah sepenuhnya habis. Dengan penggunaan indikator tersebut, akan terhindar dari masalah ini,

Siklus Bisnis dan Sentimen

Suatu pendekatan membeli tinggi, menjual rendah, lebih cocok untuk investor jangka panjang. Pendekatan ini menggunakan siklus bisnis dan survei sentimen sebagai alat pengukur waktu pasar. Pasar mengikuti pola yang agak konsisten bergerak dari rasa takut ke keserakahan dalam jangka waktu yang lama.

Waktu ketakutan maksimum adalah waktu terbaik untuk membeli saham, sementara keserakahan adalah waktu optimal untuk menjual dengan harga tinggi. (Baca lebih lanjut: Psikologi Trading Saham: Keserakahan dan Ketakutan)

Kondisi ekstrem ini terjadi beberapa kali setiap dekade dan memiliki kesamaan yang luar biasa. Siklus emosional ini mengikuti siklus bisnis. Ketika ekonomi berada dalam resesi, rasa takut mendominasi ketika aktivitas ekonomi menurun. Ini saatnya membeli saham dengan harga rendah.

Ketika siklus bisnis berada dalam fase ekspansi, aktivitas ekonomi meningkat. Biasanya, orang merasa optimis tentang masa depan. Ini saatnya menjual saham dengan harga tinggi. Survei sentimen dari perusahaan survei dapat memberikan wawasan lebih jauh ke dalam siklus bisnis.

Loading...

Sumber www.investopedia.com
Berlangganan Newsletter!
Berlangganan Newsletter!
Daftarkan email Anda disini dan dapatkan informasi terbaru dari kami langsung ke email Anda.
Anda dapat membatalkan langganan kapanpun.

Website ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Klik "Terima" untuk menyetujui kebijakan ini. Terima Baca Detail