Partner Informasi Investasi, Bisnis dan Keuangan
Rp14.149
-0.13%
Rp15.784
-0.04%
Rp18.384
-0.19%
Rp130
-0%
Rp9.728
-0.43%
Rp3.772
-0.13%
Rp2.000
-0.24%
Rp10.400
-0.39%
Rp10.794
-0.28%
Rp14.362
+0.03%
Rp9.067
-0.49%

Tips Agar Debt Collector Tidak Menagih Utang ke Rumah / Tempat Kerja

0 19.337

Banyak sekali saudara kita yang terjerat utang dan akhirnya hidupnya kacau dan frustasi. Keluarga berantakan, bisnis hancur, dan utang semakin menumpuk. Salah satu hal yang paling ditakuti oleh mereka adalah DEBT COLLECTOR.

Ketika cicilan-cicilan mulai macet, maka lembaga pembiayaan tidak segan-segan akan “melepaskan piaraannya”, yaitu Debt Collector, untuk menakut-nakuti, mengintimidasi, mengancam, memaki dan berbagai macam terror lainnya, yang intinya adalah agar angsuran segera dibayarkan.

Debt Collector seringkali tidak menggunakan perasaan ketika menagih. Mereka tidak peduli bagaimana keadaan kita, mau punya uang atau tidak, tidak peduli. Yang penting harus ada uang. Uangnya dari mana? Tidak urusan. Mau jual sesuatu, mau pinjam siapapun, mau mencuri, mau menipu, terserah, yang penting ada uang untuk cicilan.

Debt collector akan menteror pagi, siang sore, malam. Tanpa tahu waktu dan tanpa kenal tempat. Mau dirumah, mau ditempat kerja, atau mau dijalan, yang penting tagih!

Yang kasihan, ketika menagih kerumah dan tidak ketemu kita, para debt collector ini akan mengintimidasi dan mengacam siapapun yang ada dirumah, mungkin orang tua kita, mungkin istri kita, mungkin anak kita, semua jadi sasaran terror debt collector.

Tidak jarang, mereka akan datang dengan tampilan sangar, pakai jaket kulit, rame-rame dan kalau cicilan cukup lama macetnya, selain kasar, mereka juga akan mempermalukan kita didepan tetangga-tetangga kita.

Selain itu, debt collector juga akan menagih ketempat kerja, ketika kita tidak ditemukan dirumah.

Mereka akan mempermalukan kita dihadapan rekan kerja, atau didepan konsumen kita.

Tanpa segan mereka akan menagih padahal kita sedang sibuk dengan customer kita, atau sedang dengan orang-orang yang masih ada urusan kerjaan dengan kita.

Kelakuan debt collector seperti ini sudah ngalah-ngalahin sifat setan khan! Setan aja yang suka nyesatin manusia ga segitu-gitunya. Ini antek rentenir saja galaknya luar biasa.

Nah, gimana nih biar minimal debt collector tidak nyambangin rumah kita sehingga orang tua atau istri kita tidak ketakutan dirumah? atau biar ditempat kerja kita bisa tenang bekerja, berjualan, dan lain sebagainya?

Ikuti langkah berikut untuk menghadapi Debt Collector, dan buktikan efektifnya jurus ini:

1. Persiapkan mental

Semakin kita lari dari debt collector, maka akan semakin ganas debt collector mengejar kita dan semakin lama masalah akan semakin menumpuk. Secara psikologis, ketika kita takut menghadapi masalah, maka kita semakin lama justru akan semakin ketakutan.

2. Siap Segala Resiko

Dulu kita dilahirkan tidak memiliki apapun, maka ketika kita terpaksa harus kehilangan segalanya, maka ikhlaskan. Jauh lebih baik kita meninggalkan sebuah kapal pesiar yang besar yang sedang tenggelam dan kita hanya mendayung sekoci kecil, daripada kita bertahan didalamnya. Jadi kalau harus kehilangan semua, harus siap saja.

3. Macetkan cicilan sekalian

Kalau cicilan anda misal Rp. 5 juta, lalu penghasilan anda hanya Rp. 2 juta, maka kalau anda tetap mau cicil, maka cicil saja maksimal 10% dari penghasilan anda, minimal mengulur waktu agar jaminan tidak bisa disita. Lalu penghasilan yang lain bagaimana? Fokuskan saja untuk usaha. Agar lama-lama anda punya uang untuk melunasi semua utang.

4. Datangi SETIAP HARI Bank / Koperasi-nya

Setiap pagi, anda datangi Bank/Koperasi yang anda punya utang disitu. Bilang, bahwa kemampuan anda mengangsur saat ini hanyalah Rp. 200 ribu setiap bulan. Terserah gimana caranya, silakan diatur agar utang kita bisa lunas dengan kemampuan bayar yang hanya Rp. 200 ribu.

Tips menghadapi Debt Collector
Tips menghadapi Debt Collector

Saya bikin skrip dialog antara debitur dengan kepala banknya:

  • Debitur (D): “Pak, saya sudah tidak sanggup menangsur sebesar Rp. 5.000.000,-. Sementara kemampuan saya untuk mengangsur hanya Rp. 200 ribu. Saya minta solusi pada bapak, gimana caranya agar angsuran saya bisa lancar lagi.”
  • Bank (B):”Wah, tidak bisa pak. Bapak harus tetap angsur Rp. 5 juta.” (Jawaban seperti ini adalah jawaban standar dr bank)
  • D: “Usaha saya sedang sepi, modal saya habis karena buat nyicil, sekarang semua macet, mau nggenjot bisnis, modal sudah habis buat nyicil bapak. Saya minta solusinya, karena saya sudah tidak tahu apa lagi solusinya.” (Gantian kita bikin Bank pusing mikirin kita)
  • B:”Tetap tidak bisa pak”
  • D:”Baiklah pak, silakan bapak pikir-pikir dahulu, siapa tahu ada solusinya, BESOK SAYA KESINI LAGI untuk menanyakan. Kalau bapak membutuhkan kehadiran saya, silakan telepon atau SMS, HP saya aktif, dan saya akan datang kesini, tidak perlu kirim debt collector.”

Setelah itu, silakan setiap hari datangi bank, tanyakan apa sudah ada solusinya. Kalau tidak sempat datang minimal telepon atau SMS, apakah sudah ada solusi apa belum.

Kelihatan konyol, tetapi cara ini sudah banyak dipraktekkan dan berhasil, bank tidak akan mengirim debt collector. Kenapa bank mengirim debt collector? Karena kita ngilang, dicari tidak ketemu, disms tidak balas, ditelepon tidak aktif.

Kalau kita tiap hari nyambangi bank, buat apa bank suruh debt collector?

Cara ini memiliki beberapa keuntungan, sekalipun kelihatan konyol:

  1. Bank mau tidak mau nanti akan mau negosiasi dengan kita untuk memberikan solusi terhadap masalah kita, bisa pengurangan bunga, dll.
  2. Keluarga kita tenang tidak dikejar-kejar debt collector, sekalipun utang belum lunas.
  3. Ditempat kerja kita tenang, tidak bikin malu didepan relasi dan rekan kerja, juga konsumen, sehingga produktifitas kerja bisa meningkat.
  4. Kita tidak dihantui ketakutan sepanjang siang dan malam.

MODALNYA HANYA SIAPKAN SAJA MENTAL YANG KUAT.

Awalnya anda akan takut, tetapi ketika anda sekali saja mampu mengatasi rasa takut untuk mendatangi bank tersebut, maka selanjutnya anda akan mempu mengontrol rasa takut tersebut.

Sumber Tulisan:

Much. Nasrulloh

Loading...