Partner Informasi Investasi, Bisnis dan Keuangan
Bitcoin (BTC)
Rp70.711.186
-17.92%
Ethereum (ETH)
Rp1.935.465
-30.08%
Litecoin (LTC)
Rp477.514
DigitalCash (DASH)
Rp1.490.814
Monero (XMR)
Rp985.234
Nxt (NXT)
Rp527
Ethereum Classic (ETC)
Rp79.272
Dogecoin (DOGE)
Rp32
ZCash (ZEC)
Rp1.247.747
Bitshares (BTS)
Rp781
DigiByte (DGB)
Rp178
Ripple (XRP)
Rp6.560
0%
BitcoinDark (BTCD)
Rp162.825
PeerCoin (PPC)
Rp11.777
CraigsCoin (CRAIG)
Rp12

Nilai Tukar Mata Uang Dipengaruhi 5 Faktor ini

0 29

Sehatnya ekonomi di suatu negara tidak hanya dipengaruhi oleh faktor seperti suku bunga dan inflasi, tetapi juga dipengaruhi kurs / nilai tukar mata uang. Pada ekonomi berbasiskan pasar (bebas), perdagangan suatu negara sangat dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang negara tersebut.

Kurs mata uang berperang penting dalam perekonomian negara sehingga banyak dianalisis dan bahkan dimanipulasi oleh berbagai pihak. Untuk level yang lebih kecil, nilai tukar mata uang berperan penting dalam trading forex atau perdagangan saham. Kurs mata uang memiliki dampak terhadap besarnya tingkat pengembalian riil portofolio investasi seorang investor.

Selain karena inflasi dan suku bunga, nilai tukar mata uang merupakan faktor penentu terpenting dalam tingkat sehatnya perekonomian di suatu negara. Kurs mata uang ini berperan penting di perdagangan suatu negara, dan di hampir semua ekonomi pasar di dunia.

Oleh karena itu, nilai tukar mata uang menjadi standar / ukuran ekonomi yang paling banyak diawasi, dianalisis, dan seringkali dimanipulasi khususnya oleh pemerintah. Terdapat faktor-faktor utama yang berada dibalik pergerakan kurs mata uang tersebut.

Sebenarnya apa yang menjadi faktor penyebab pergerakan kurs mata uang yang sering kali berubah? Ternyata, 5 faktor utama ini yang paling mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang.

#1 Adanya Perbedaan di Inflasi

Ini faktor pertama yang mempengaruhi kurs mata uang suatu negara. Bagi negara-negara yang konsisten menunjukkan tingkat inflasi rendah, umumnya menunjukkan nilai mata uang yang meningkat. Penyebabnya adalah daya beli yang relatif naik terhadap mata uang negara lain.

Negara-negara yang memiliki tingkat inflasi cenderung rendah pada paruh terakhir abad 20, misalkan Jepang, Jerman, dan Swiss. Pada sisi lain, negara-negara yang cenderung memiliki tingkat inflasi tinggi, maka terjadi depresiasi mata uangnya yang terkait dengan mata uang mitra perdagangannya.

#2 Terdapat Perbedaan Suku Bunga

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa ada keterkaitan antara suku bunga, inflasi, dan kurs mata uang suatu negara. Dengan “memanipulasi” suku bunganya, bank sentral suatu negara bisa memberikan pengaruh terhadap inflasi dan nilai tukar mata uangnya. Secara sederhana, jika mengubah suku bunga maka akan berpengaruh terhadap inflasi dan kurs mata uang negara tersebut.

Negara-negara yang menawarkan suku bunga tinggi, akan dimanfaatkan oleh kreditur dalam perekonomian negara sehingga akan memberikan tingkat pengembalian relatif tinggi dibandingkan negara lain. Suku bunga tinggi akan menjadi faktor penarik modal asing masuk ke suatu negara sehingga menyebabkan nilai tukarnya naik.

Dampak tingginya suku bunga dapat saja menurun jika inflasi negara tersebut lebih tinggi dibandingkan negara lain sehingga akan mendorong mata uangnya untuk turun. Ada korelasi berlawanan saat menurunkan suku bunga, yaitu rendahnya tingkat suku bunga akan cenderung menurunkan nilai tukar mata uang.

#3 Faktor Utang Publik

Apabila suatu negara mempunyai proyek-proyek skala besar pada sektor pemerintah atau publik, maka pada umumnya sering melibatkan pembiyaan defisit yang juga tinggi. Ada dua sisi yang saling berlawanan pada kasus ini. Pembangunan proyek skala besar bisa merangsang ekonomi domestik, tetapi di sisi lainnya defisit pembiyaan yang besar bisa mengurangi minat para investor asing untuk berinvestasi.

Mengapa investasi asing cenderung berkurang? Hal ini disebabkan karena utang publik yang besar dapat mendorong terjadinya inflasi. Apabila inflasi tinggi, maka utang publik tersebut akan dibayarkan dengan uang yang bernilai lebih murah di masa depan.

Apabila terjadi hal yang lebih buruk, maka pemerintah akan mencetak uang lebih banyak untuk membayar sebagian besar utang tersebut. Penambahan stok uang pastinya akan menyebabkan inflasi suatu negara lebih tinggi.

Jika pemerintah tak sanggup menutup defisit keuangannya dengan instrumen domestik, seperti menjual obligasi domestik, maka pemerintah perlu mengambil langkah-langkah dengan meningkatkan pasokan surat berharga yang dijual ke asing. Ini akan menyebabkan harga surat berharga tersebut akan turun.

Investor asing biasanya mengkhawatirkan utang yang terlampau tinggi, dan mereka mempercayai bahwa negara memiliki risiko gagal membayar utangnya tersebut lebih tinggi.

#4 Defisit Rekening Giro (Current Account)

Rekening koran / giro suatu negara adalah neraca perdagangan negara tersebut dengan mitra dagangnya. Neraca ini mencerminkan semua pembayaran antar negara atas jasa, barang, dividen, dan bunga.

Apabila terjadi defisit neraca berjalan, ini menunjukkan negara tersebut belanja lebih besar pada perdagangan luar negeri dibandingkan dengan pemasukannya. Negara akan meminjam modal yang berasal dari sumber asing untuk menutupi defisit neraca tersebut.

Sederhananya, pemerintah suatu negara butuh lebih banyak mata uang asing daripada yang didapatkan dari penjualan ekspor. Ini akan memasok lebih banyak mata uangnya daripada permintaan orang asing terhadap produk negara itu.

Tingginya permintaan mata uang asing akan menurunkan kurs mata uang negara tersebut sehingga produk dan jasa domestik akan murah bagi asing. Di sisi lain, aset-aset asing bernilai lebih mahal untuk kepentingan domestik negara tersebut.

#5 Kinerja Ekonomi dan Stabilitas Politik

Para investor asing akan selalu mencari peluang untuk menanamkan modalnya di negara-negara yang memiliki stabilitas politik dan kinerja ekonomi yang baik. Sebaliknya, negara-negara yang memiliki kinerja perekonomian yang buruk dan terjadi gejolak politik, akan menurunkan tingkat kepercayaan investor asing untuk berinvestasi.

Terjadinya gejolak politik dapat menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan terhadap mata uang negara tersebut dan terjadi pergerakan modal ke mata uang negara yang jauh lebih stabil. Oleh karena itu, hal ini menjadi faktor pengaruh tingkat nilai tukar mata uang negara tersebut.

Loading...

Berlangganan Newsletter!
Berlangganan Newsletter!
Daftarkan email Anda disini dan dapatkan informasi terbaru dari kami langsung ke email Anda.
Anda dapat membatalkan langganan kapanpun.

Website ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Klik "Terima" untuk menyetujui kebijakan ini. Terima Baca Detail