Partner Informasi Investasi, Bisnis dan Keuangan
Rp14.124
-0.08%
Rp16.196
-0.05%
Rp18.144
-0.03%
Rp131
-0.51%
Rp10.157
+0.26%
Rp3.767
-0.12%
Rp2.087
-0.02%
Rp10.432
-0.02%
Rp10.637
+0.01%
Rp14.386
-0.32%
Rp9.629
+0.01%

Rumus ROI (Return on Investment) atau Tingkat Pengembalian Investasi

0 153

Dalam investasi atau bisnis, sangat penting untuk mengukur tingkat rasio profitabilitas investasi tertentu. Salah satu teknik yang digunakan adalah menggunakan rumus ROI (Return on Investment). Ulasan lebih lengkap tentang Tingkat Pengembalian Investasi dan rumusnya berikut ini.

Apa yang dimaksud dengan Return on Investment (ROI)?

Tingkat Pengembalian Investasi atau yang lebih dikenal dengan Return on Investment (ROI) merupakan ukuran kinerja yang digunakan dalam mengevaluasi efisiensi investasi. Atau dapat juga digunakan untuk membandingkan efisiensi beberapa investasi yang berbeda.

Return on Investment (ROI) digunakan untuk mengukur jumlah pengembalian investasi, berbanding terhadap biaya investasi. Untuk menghitung ROI tersebut, manfaat (atau tingkat pengembalian) suatu investasi dibagi dengan biaya investasi. Hasil dari pembagian tersebut dinyatakan sebagai rasio atau persentase.

Rumus ROI (Return on Investment):

ROI = (Keuntungan dari Investasi – Biaya Investasi) / Biaya Investasi

Dari rumus ROI di atas dapat dijabarkan bahwa “Keuntungan dari Investasi” mengacu pada hasil yang didapatkan dari penjualan investasi yang menarik.

Karena ROI diukur sebagai rasio / persentase, maka dapat dengan mudah membandingkannya dengan tingkat pengembalian investasi lainnya. Hal ini memungkinkan bagi seseorang untuk mengukur beragam jenis investasi satu dengan lainnya.

Penjelasan Lebih Lanjut tentang ROI dan Contoh Penerapannya

Rumus ROI ini merupakan metrik yang paling populer karena mudah digunakan dan serbaguna. Pada dasarnya, penggunaan ROI merupakan ukuran dasar dari profitabilitas investasi. Cara menghitungnya tidak rumit, mudah untuk ditafsirkan dan dapat digunakan di berbagai aplikasi.

Apabila hasil ROI tidak positif, atau terdapat peluang lain yang memiliki ROI lebih tinggi, hal ini dapat membantu bagi investor untuk memilih opsi investasi terbaik.

Contoh penerapan rumus ROI sebagai berikut:

Anto berinvestasi sekitar $1.000 di sebuah perusahaan Pizza pada tahun 2010 dan menjual kembali sahamnya satu tahun kemudian dengan total harga sahamnya $1.200. Dalam rangka menghitung profit atas investasinya, maka dia akan membagi keuntungannya ($1.200 – $1.000 = $200). Biaya investasi ($1.000) sehingga ROI-nya sebesar $200 / $1.000 = 20%.

Dari informasi perhitungan rumus ROI tersebut, Anto dapat membandingkan investasinya di perusahaan Pizza dengan proyek investasi lainnya. Misalkan, Anto juga berinvestasi $2.000 di perusahaan garmen pada 2011 dan pada 2014 menjual sahamnya dengan total $2.800.

Tingkat Pengembalian Investasi (ROI) saham Anto di perusahaan garmen tersebut menjadi $800 / $2.000 = 40%.

Batasan Penggunaan Rumus ROI

Dari contoh investasi yang dilakukan Anto diatas, dapat terungkap bahwa terdapat beberapa batasan dalam menggunakan ROI, khususnya jika ingin membandingkan investasi.

Hasil ROI investasi kedua Anto di perusahaan garmen, dua kali lipat dari investasi pertama di perusahaan pizza. Sementara itu, jeda waktu antara pembelian dan penjualan saham Anto didapatkan data 1 tahun untuk investasi pertama dan 3 tahun untuk investasi kedua.

Anto dapat menghitung rata-rata ROI di setiap tahunnya. Jika total ROI adalah 40%, maka untuk mendapatkan ROI rata-rata per tahun, dia dapat membaginya dengan 3 sehingga menghasilkan 13,33%. Dari penyesuaian tersebut terlihat bahwa walaupun investasi kedua Anto persentasenya lebih tinggi, tetapi sebenarnya investasi pertamanya yang merupakan pilihan investasi terefisien.

ROI dapat digunakan bersama dengan Rate of Return, yang memperhitungkan kerangka waktu proyek. Seseorang juga dapat menggunakan Net Present Value (NPV), yang memberikan perbedaan nilai uang dari waktu ke waktu karena inflasi. Penerapan NPV ketika menghitung tingkat pengembalian sering disebut Tingkat Pengembalian Riil.

Perkembangan dalam Return on Investment (ROI)

Dewasa ini, sebagian pebisnis dan investor memberikan perhatian terhadap pengembangan bentuk baru dari metrik ROI, disebut sebagai Social Return on Investment (SROI). Metrik SROI ini dikembangkan awal mula pada tahun 2000.

Metrik tersebut digunakan untuk memperhitungkan dampak proyek yang lebih luas dengan memasukkan nilai ekstra-finansial. Nilai tersebut seperti metrik lingkungan dan sosial yang tidak tercemin dalam akun keuangan konvensional.

Loading...

Sumber www.investopedia.com
Berlangganan Newsletter!
Berlangganan Newsletter!
Daftarkan email Anda disini dan dapatkan informasi terbaru dari kami langsung ke email Anda.
Anda dapat membatalkan langganan kapanpun.

Website ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Klik "Terima" untuk menyetujui kebijakan ini. Terima Baca Detail