Partner Informasi Investasi, Bisnis dan Keuangan
Bitcoin (BTC)
Rp96.630.227
-0.21%
Ethereum (ETH)
Rp3.390.585
-2.74%
Litecoin (LTC)
Rp840.410
-4.51%
DigitalCash (DASH)
Rp2.825.166
-3.89%
Monero (XMR)
Rp1.701.082
-2.98%
Nxt (NXT)
Rp1.036
-1.81%
Ethereum Classic (ETC)
Rp168.178
+4.52%
Dogecoin (DOGE)
Rp84
-1.88%
ZCash (ZEC)
Rp1.832.305
-2.04%
Bitshares (BTS)
Rp1.697
-4.91%
DigiByte (DGB)
Rp366
-6.53%
Ripple (XRP)
Rp7.567
0%
BitcoinDark (BTCD)
Rp273.254
-8.59%
PeerCoin (PPC)
Rp16.596
+5.6%
CraigsCoin (CRAIG)
Rp18
+0.38%

Definisi & Penjelasan Social Media Marketing (SMM)

0 90

Di era digital ini, setiap bisnis membutuhkan inovasi dalam pemasaran digital (digital marketing). Salah satunya melalui pemasaran media sosial (Social Media Marketing / SMM). Apa itu Social Media Marketing (SMM)? Berikut definisi dan penjelasannya.

Apa itu Social Media Marketing (SMM)?

Pemasaran media sosial atau social media marketing (SMM) adalah salah satu cara memasarkan dengan menggunakan media sosial, seperti Facebook, Twitter, dll. Pemasaran media sosial memberikan alternatif cara bagi bisnis / perusahaan untuk menjangkau pelanggan baru, terlibat dengan pelanggan yang ada, dan mempromosikan budaya, misi, atau produk. (Baca Lebih Lanjut: Cara Memasarkan Bisnis / Produk via Youtube)

Juga dikenal sebagai pemasaran digital (digital marketing) dan “e-marketing“, pemasaran media sosial memiliki alat analisis data yang dibuat khusus yang memungkinkan pemasar untuk melacak seberapa sukses upaya mereka.

Penjelasan Lebih Lanjut tentang Social Media Marketing (SMM)

Melalui media sosial memungkinkan bagi tim marketing untuk menggunakan berbagai taktik dan strategi dalam mempromosikan konten dan membuat orang terlibat dengannya.

Banyak jejaring sosial memungkinkan pengguna untuk memberikan informasi geografis, demografi, dan pribadi yang terperinci. Ini memungkinkan bagi tim pemasar untuk menyesuaikan pesan mereka dengan apa yang paling mungkin berkaitan dengan pengguna.

Karena khalayak internet dapat lebih tersegmentasi daripada saluran pemasaran yang tradisional, perusahaan dapat memastikan bahwa mereka memfokuskan sumber dayanya pada audiens yang ingin ditarget.

Kampanye social media marketing (SMM) memiliki keuntungan menarik bagi khalayak luas sekaligus. Misalnya, kampanye dapat menarik pelanggan yang sudah ada dan calon pelanggan, karyawan, blogger, media, masyarakat umum, dan pemangku kepentingan lainnya.

Beberapa metrik yang digunakan untuk mengukur keberhasilan kampanye pemasaran media sosial, yaitu:

  • Laporan situs web (seperti analisis Google)
  • Laba atas investasi (dengan menghubungkan pemasaran ke aktivitas penjualan)
  • Tingkat respons pelanggan (berapa banyak pelanggan yang mengeposkan tentang perusahaan )
  • Dan jangkauan / viralitas (berapa banyak pelanggan berbagi konten)

Strategi Social Media Marketing (SMM)

Strategi utama yang digunakan dalam pemasaran media sosial adalah mengembangkan pesan dan konten yang akan dibagikan oleh pengguna individu dengan keluarga, teman, dan rekan kerja mereka.

Strategi ini mengandalkan dari mulut ke mulut dan memberikan beberapa manfaat. Pertama, meningkatkan jangkauan pesan ke jaringan dan pengguna yang manajer media sosial mungkin tidak dapat mengakses sebaliknya. Kedua, konten yang dibagikan membawa endorsement implisit ketika dikirim oleh seseorang yang diketahui dan dipercaya oleh penerima.

Strategi media sosial melibatkan pembuatan konten yang melekat, berarti strategi ini akan mendapatkan perhatian pengguna. Selain itu, meningkatkan kemungkinan bahwa dia akan melakukan tindakan yang diinginkan, seperti membeli produk atau membagikan konten kepada orang lain.

Pemasar membuat konten viral yang dirancang untuk menyebar di antara pengguna dengan cepat. Pemasaran media sosial juga harus mendorong pelanggan untuk membuat dan berbagi konten mereka sendiri, seperti ulasan produk atau komentar.

Di satu sisi, pemasaran media sosial dapat memberikan manfaat, tetapi di sisi lain, strategi ini dapat menciptakan hambatan yang mungkin tidak dihadapi oleh perusahaan. Misalnya, video viral yang mengklaim bahwa produk perusahaan menyebabkan konsumen menjadi sakit, misalnya, harus ditangani oleh perusahaan. Terlepas dari apakah klaim itu benar atau salah.

Bahkan, jika perusahaan mampu mengatasi hal tersebut secara langsung, konsumen mungkin cenderung tidak membeli produk dari perusahaan tersebut di masa mendatang.

Loading...

Sumber www.investopedia.com
Berlangganan Newsletter!
Berlangganan Newsletter!
Daftarkan email Anda disini dan dapatkan informasi terbaru dari kami langsung ke email Anda.
Anda dapat membatalkan langganan kapanpun.

Website ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Klik "Terima" untuk menyetujui kebijakan ini. Terima Baca Detail