Partner Informasi Investasi, Bisnis dan Keuangan
Rp14.023
+0.06%
Rp15.506
+0.45%
Rp18.403
+0.27%
Rp129
+0.07%
Rp9.581
+0.02%
Rp3.739
+0.06%
Rp1.993
-0.08%
Rp10.304
+0.04%
Rp10.581
+0.62%
Rp14.152
+0.25%
Rp9.191
-0.33%

Leverage Ratio dan Financial Leverage

0 8.188

Dua hal yang perlu dipahami jika mengelola sebuah usaha / bisnis adalah tentang leverage ratio (rasio tingkat hutang) dan financial leverage (daya ungkit finansial). Apakah yang dimaksud keduanya? Bagaimana perhitungan dan penerapannya di dalam bisnis?

Leverage ratio adalah rasio yang menunjukkan tingkat hutang dalam struktur modal sebuah perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang tersebut.

Sedangkan, financial leverage adalah berasal dari hasil pinjaman (debt financing), financial lease (sewa guna usaha keuangan) dan saham preferen (preferred stock) yang dimanfaatkan perusahaan.

Bagaimana menghitung leverage ratio dan financial leverage?

Setidaknya, terdapat sepuluh leverage ratio yang umumnya digunakan dalam menganalisis posisi keuangan perusahaan, yaitu:

1. Rasio hutang / ekuitas = kewajiban total : ekuitas pemegang saham total

Kegunaan rasio hutang / ekuitas (debt/equity ratio) menjadi lebih nyata jika sekuritas dinilai pada nilai pasar (market value) akhir tahunnya dan bukan pada nilai buku (book value).

Jika nilai akhir tahun tidak representatif, maka dapat digunakan harga pasar rata-rata.

2. Hutang jangka panjang : ekuitas pemegang saham

3. Rasio hutang = kewajiban total : aset total

4. Rasio struktur modal = hutang jangka panjang rata-rata : (hutang jangka panjang + ekuitas pemilik)

5. Ekuitas pemilik : pinjaman modal

Ekuitas pemilik (owner’s equity) meliputi investasi pemilik (terutama modal saham, capital stock) ditambah laba ditahan (retained earning).

6. Bunga : modal yang dipinjam (borrowed capital)

7. Modal kerja rata-rata (working capital) : funded debt rata-rata (hutang dengan jaminan)

8. Kewajiban lancar rata-rata : ekuitas pemilik

9. Indeks financial leverage = Return on common equity : return on total asset

10. Rasio financial leverage = aset total : ekuitas pemegang saham biasa

Contoh. Informasi leverage ratio diperoleh dari neraca sebuah perusahaan. Suatu neraca parsial dari suatu perusahaan disajikan sebagai berikut:

  • Hutang jangka panjang (long-term debt) = $500.000
  • Kewajiban total (total liabilities) = $700.000
  • Ekuitas pemegang saham (stockholder’s equity) = $ 300.000
  • Arus kas dari operasi (cash flow from operation) = $100.000

Rasio yang dimiliki perusahan tersebut adalah:

  • Kewajiban jangka panjang terhadap ekuitas pemegang saham = 1,67
  • Arus kas terhadap kewajiban jangka panjang = 0,20
  • Kewajiban total terhadap ekuitas pemegang saham = 2,33

Hasil ini dibandingkan dengan norma rata-rata yang berlaku bagi para pesaing:

  • Kewajiban jangka panjang terhadap ekuitas pemegang saham = 0,80
  • Arus kas terhadap kewajiban jangka panjang = 0,30
  • Kewajiban total terhadap ekuitas pemegang saham = 1,50

Setelah membandingkan rasio perusahaan dengan norma yang berlaku dalam industri, jelaslah bahwa likuiditas (solvency) perusahaan lebih buruk dibandingkan para pesaingnya.

Perusahaan memiliki hutang dan kewajiban jangka panjang total yang lebih tinggi dalam struktur modalnya dan memiliki arus kas yang lebih rendah untuk menutupi hutangnya.

Siapa yang menggunakan leverage ratio & financial leverage dan bagaimana caranya?

Kreditor dan Pihak Manajemen. Dalam menganalisis kinerja perusahaan, rasio kewajiban total terhadap ekuitas pemegang saham total yang tinggi, menunjukkan risiko yang besar.

Ini karena perusahaan mungkin akan kesulitan membayar bunga dan pinjaman pokok serta memenuhi tingkat yang wajar untuk pembiayaan selanjutnya.

leverage ratio dan financial leverage
Penjelasan tentang leverage ratio dan financial leverage

Debt/equity ratio yang tinggi akan menjadi masalah yang akut bagi perusahaan yang mengalami masalah kesulitan uang tunai, terutama ketika kondisi bisnis tidak menguntungkan.

Memiliki jumlah hutang yang berlebihan akan mengakibatkan kurang luwesnya pembiayaan perusahaan karena dana akan semakin sulit diperoleh pada pasar uang yang ketat.

Juga keharusan membayar beban bunga tetap yang tinggi dapat menyebabkan ketidakstabilan penghasilan.

Keadaan leverage yang menguntungkan terjadi saat hasil yang diperoleh dari dana pinjaman melebihi biaya bunga, dengan catatan bahwa jumlah hutang perusahaan tidak berlebihan.

Rasio hutang/ekuitas yang diinginkan bergantung pada banyak variabel, termasuk besar leverage ratio tersebut pada perusahaan lain dalam industri yang sama, akses untuk pembiayaan hutang selanjutnya dan stabilitas pendapatan.

Rasio hutang jangka panjang terhadap ekuitas pemegang saham yang lebih besar dari 1, menunjukkan bahwa hutang jangka panjangnya lebih tinggi dibanding dengan modal ekuitas.

Rasio hutang (kewajiban total terhadap aset total) menunjukkan persentase dari seluruh dana yang diperoleh dari kreditor. Rasio ini merupakan indikator besarnya hutang yang wajar untuk dipinjam, dikaitkan dengan kondisi perusahaan.

Kreditor akan lebih senang melihat rasio hutang yang rendah karena kerugian mereka akan berkurang bila perusahaan bangkrut.

Calon kreditor enggan memberikan pinjaman kepada perusahaan dengan posisi hutang yang tinggi. Namun, ukuran hutang yang wajar, tergantung dari sifat bisnisnya.

Misalnya, perusahaan sarana umum (utility) boleh saja memiliki rasio hutang yang lebih tinggi dibanding usaha manufaktur, karena penghasilannya dapat dikendalikan oleh penyesuaian tarif.

Jika hasil analisis menunjukkan bahwa bunga dari modal yang dipinjam (borrowed capital) meningkat, penting untuk menemukan penyebabnya.

Apakah hal itu disebabkan pemberi pinjaman menginginkan tingkat bunga yang lebih tinggi karena tingginya risiko perusahaan?

Atau karena tingkat bunga pasar (market interest rate) meningkat dengan tajam?

Rasio kewajiban lancar (current liabilities) terhadap ekuitas pemilik (owner’s equity) digunakan untuk mengukur apakah kreditor jangka pendek (short-term creditor) menyediakan sumber modal yang berlebihan.

Ini terkait dengan bahan baku (raw material), pasokan (supply) dan pelayanan (service). Rasio yang pantas tergantung pada faktor tingkat perputaran persediaan (inventory turnover rate) dan tingkat perputaran piutang, status likuiditas, dll.

Jika hutangnya besar, penurunan yang drastis dalam penjualan dan perputaran piutang bisa berarti bahwa perusahaan tersebut tidak akan mampu memenuhi kewajiban hutangnya.

Bunga dari dana pinjaman yang besar bahkan mungkin melebihi pendapatan yang diperoleh, sehingga menyebabkan kerugian. Namun, walaupun hutang terhitung besar, sebuah perusahaan mungkin saja aman dalam memenuhi kewajibannya.

Ini karena perputaran current asset yang cepat sehingga bisa tepat waktu dalam membayar hutang, beberapa kewajiban lancar dapat diperbesar dan tanggal jatuh temponya dapat diperpanjang.

Jika modal pinjaman (borrowed capital) melebihi modal yang diinvestasikan (invested capital), pemilik membagi risiko kepemilikannya dengan investor dan kreditor memiliki risiko berkaitan dengan pembayarannya.

Umumnya, invested capital harus melebihi borrowed capital. Menganalisis tren rasio modal pemilik (owner’s capital) terhadap modal yang dipinjam akan menunjukkan tujuan dan kebijakan keuangan perusahaan.

Hal ini memberikan pengertian lebih dalam tentang preferensi manajemen terhadap pembiayaan, misalnya apakah manajemen cenderung mengambil risiko yang lebih besar.

Efek dari leverage ratio terhadap kegiatan operasi akan positif jika return on equity capital (penghasilan dari modal ekuitas) melebihi return on total asset (penghasilan dari aset total).

Leverage ratio akan positif jika return on asset lebih tinggi dari cost of debt.

Rasio financial leverage mengukur hubungan antara aset total dan common equity capital yang mendanainya. Dalam perusahaan yang menggunakan leverage ratio secara menguntungkan, semakin tinggi rasio financial leverage akan semakin meningkatkan return on equity.

Pada saat yang bersamaan, risiko yang inheren dengan adanya perubahan dalam profitabilitas juga semakin besar.

Jika hasil analisis suatu perusahaan menunjukkan tren yang berulang-ulang berupa lebih besarnya ekuitas pada nilai buku (equity at book value) dari ekuitas pada nilai pasar (equity at market value), ini merupakan pertanda lemahnya keuangan perusahaan.

Hal ini akan mempengaruhi kemampuannya untuk menjual modal ekuitas (equity capital) atau untuk menambah modal hutang baru.

Sebaliknya, kelebihan nilai pasar dari nilai buku sekuritas adalah faktor pelindung yang kuat bagi para pemegang obligasi (bondholder) dan kreditor lainnya.

Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menambah equity capital, refleksi dari kuatnya posisi keuangan perusahaan.

Rasio modal kerja terhadap hutang yang berjaminan (working capital to funded debt) digunakan untuk menentukan apakah perusahaan mampu menyelesaikan kewajiban hutang jangka panjangnya dengan menggunakan modal kerja.

Meskipun perusahaan menunjukkan kecukupan profitabilitas, mungkin saja perusahaan itu tidak memiliki dana likuid yang cukup untuk membayar kewajiban jangka panjangnya.

Referensi Tambahan tentang Leverage Ratio dan Financial Leverage:

www.investopedia.com

Loading...